NADIKABAR.COM — Pemerintah Provinsi Banten bersama Polda Banten mendampingi keluarga Surakman (60), ABK KM Arupadhatu 1 yang telah teridentifikasi setelah ditemukan di perairan Enggano, Bengkulu.

“Insyaallah, kita bersama Polda Banten akan terus mendampingi keluarga dan menginformasikan setiap perkembangan yang ada. Kita juga akan mendukung penuh proses pemulangan jenazah dan pemakamannya,” kata Gubernur Banten Andra Soni di Mapolda Banten, Kota Serang, Rabu.

Surakman merupakan salah satu ABK KM Arupadhatu 1 yang hilang kontak saat membawa rombongan jurnalis untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.

Andra berharap tujuh korban lainnya yang hingga kini masih dalam pencarian dapat segera ditemukan. Ia juga mengajak masyarakat mendoakan keselamatan para korban dan keluarga yang masih menunggu.

“Kepada keluarga dari tujuh korban yang belum ditemukan, semoga kita segera mendapatkan titik terang dan akan terus diinformasikan. Kita berharap dan senantiasa berdoa untuk segera menemukan saudara-saudara kita,” katanya.

KM Arupadhatu 1 membawa lima jurnalis dan tiga kru kapal yang bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, dan dilaporkan hilang kontak sejak 7 September 2026.

Jenazah Surakman ditemukan di perairan sekitar Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada Sabtu (12/9).

Saat ditemukan, jenazah memiliki ciri mengenakan celana pendek hitam, tinggi sekitar 163 sentimeter, dan diperkirakan berusia 50 tahun.

Setelah berkoordinasi, Polda Banten dan Polda Bengkulu melakukan proses identifikasi melalui tim Disaster Victim Identification (DVI) dengan mencocokkan data antemortem keluarga delapan korban yang hilang kontak.

Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki mengatakan identifikasi ilmiah dilakukan setelah pihaknya menerima informasi penemuan jenazah laki-laki tanpa identitas di Pulau Enggano.

Tim Biddokkes Polda Banten kemudian menyerahkan data antemortem kepada Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu untuk proses identifikasi.

“Dari delapan keluarga korban, pada satu jenazah telah dilakukan pemeriksaan oleh Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri melalui Kepala Bidang Laboratorium DNA,” kata Hengki.

Berdasarkan perbandingan data primer berupa sidik jari, gigi, dan DNA, jenazah tersebut teridentifikasi secara genetik sebagai Surakman. Hasil pemeriksaan juga mengonfirmasi hubungan biologis Surakman sebagai ayah Yayat.

Hengki mengatakan jenazah Surakman dijadwalkan diterbangkan dari Bengkulu menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis (24/9/2026).

“Jenazah akan kami terima langsung bersama Bapak Gubernur Banten dan Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Basarnas Banten Al Amrad mengatakan meskipun operasi pencarian secara resmi telah ditutup setelah 10 hari, pemantauan dan koordinasi lintas wilayah tetap dilakukan.

“Hingga saat ini, kami terus berkoordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung untuk memantau wilayah pesisir serta melibatkan para nelayan sekitar. Meski hasilnya sementara masih nihil, termasuk pemantauan di wilayah perairan Lebak, upaya koordinasi ini tidak dihentikan,” katanya.