Sepragusri yang juga menjabat Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Bengkulu mengatakan potensi tersebut berkaitan dengan upaya pengendalian emisi gas rumah kaca yang selama ini menjadi bagian dari agenda pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim di Provinsi Bengkulu.

Dia menjelaskan terdapat sejumlah sektor yang berkaitan dengan profil emisi dan potensi pengendalian karbon, meliputi kehutanan, pertanian dan penggunaan lahan, energi, serta pengelolaan limbah.

Melalui berbagai upaya mitigasi pada sektor tersebut, pemerintah daerah berupaya menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mengoptimalkan potensi penyerapan karbon yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi pembangunan daerah.

Namun, Sepragusri mengakui mekanisme pengelolaan hasil perdagangan karbon, termasuk kemungkinan penerimaan dana melalui kas pemerintah daerah atau Pemerintah Pusat, masih perlu dipastikan lebih lanjut.