NADIKABAR.COM — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan mengajak para agen perubahan (agent of change), termasuk kader kesehatan, pejabat birokrasi, dan tenaga medis untuk mendorong masyarakat agar hidup sehat, sehingga terhindar dari penyakit, termasuk yang tidak menular."Para agent of change bisa menjadi pionir-pionir dalam rangka perubahan berlaku masyarakat di instansinya masing-masing, yang nantinya, harapannya, bisa menyebar ke seluruh masyarakat yang ada di DKI Jakarta," kata Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan DKI Jakarta Arif Syaiful Haq dalam seminar "Agent of Change" di Jakarta, Senin.Menurut dia, mendorong masyarakat untuk hidup sehat, termasuk aktif dalam beraktivitas, merupakan sebuah pekerjaan besar dan tidak dapat dilakukan sendirian oleh Dinas Kesehatan beserta jajarannya di puskesmas maupun di rumah sakit. Di sisi lain, tantangan masyarakat di Jakarta untuk hidup sehat relatif sulit.

Dia mengatakan pola hidup sedenter (banyak duduk) ditambah dengan segala kemudahan, seperti transportasi, menyebabkan masyarakat kurang bergerak, sehingga berpotensi meningkatkan risiko terkena penyakit tidak menular."Dengan gadget di genggaman tangan kita, mau ke mana-mana, jarak-jarak 100-200 meter, akhirnya pesan ojek dan lain sebagainya. Itu membuat faktor risiko untuk terjadinya penyakit tidak menular, terutama juga obesitas, itu sangat tinggi di DKI Jakarta," ujar Arif.

Dia pun menilai kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Pemprov DKI bersama para agen perubahan untuk tetap mendorong masyarakat agar mau hidup sehat."Itu adalah sebuah tantangan, terkait dengan bagaimana cara kita untuk tetap semangat, untuk tetap kita mengajak masyarakat di sekitar kita, di lingkungan kita, untuk sama-sama kita hidup sehat," pungkas Arif.Merujuk hasil pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga triwulan II tahun 2026, diketahui obesitas menjadi salah satu temuan penyakit terbanyak pada masyarakat DKI Jakarta, yakni 612.548 orang dari 1.944.494 orang yang diskrining (31,5 persen).Masalah kesehatan yang juga dialami warga Jakarta, yaitu faktor risiko stroke pada peserta berusia lebih dari 40 tahun dengan penyakit hipertensi dan diabetes, yakni 39.652 orang dari 60.185, serta kurang aktivitas fisik sebanyak 555.083 orang dari 1.800.834 orang yang mengikuti skrining aktivitas fisik.Sementara itu, hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 memperlihatkan angka obesitas di Jakarta mencapai 31,8 persen atau naik dari 21,3 persen pada 2018. "Memang obesitas di Jakarta ini merupakan salah satu kondisi yang mengkhawatirkan. Kita coba bersama-sama mengajak masyarakat DKI Jakarta untuk bisa lebih sehat lagi," tutur Arif.