NADIKABAR.COM — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengajak para santri bisa mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah terutama melalui kewirausahaan dan pengentasan kemiskinan.

"Para santri harus mampu menjadi benteng terakhir dan garda terdepan dalam membangun daerahnya mulai dari kabupaten hingga provinsi. Dengan cara apa? Menyejahterakan masyarakat dengan mengurangi angka kemiskinan," kata Gubernur Jateng Ahmad Lutfhi di Tegal, Kamis.

Ia mengatakan angka kemiskinan Jawa Tengah kini sebesar 9,21 persen atau sekitar 3,6 juta jiwa sehingga perlu upaya dalam menuntaskan masalah itu.

Namun, kata dia, upaya itu butuh kolaborasi dari berbagai pihak termasuk keberadaan ratusan ribu santri yang tersebar di ribuan pondok pesantren dinilai menjadi potensi besar untuk mendukung pembangunan ekonomi termasuk melahirkan santri yang mandiri dan memiliki jiwa kewirausahaan.

"Untuk mendukung hal tersebut, Pemprov Jateng menjalankan program Pesantren Obah dengan melibatkan Kementerian Agama dan berbagai pihak terkait," kayanya.

Menurut dia, program itu mencakup beasiswa pendidikan, bantuan pondok pesantren, pengembangan usaha santri, hingga insentif guru madrasah diniyah (madin).

"Provinsi Jawa Tengah telah memberikan beasiswa kepada 488 santri termasuk santri penggerak. Kita juga memberikan beasiswa kepada santri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, seperti Yaman, Mesir, dan negara lainnya sebanyak 58 santri," katanya.

Selain itu, Pemprov Jateng juga melanjutkan program insentif guru agama yang pada 2025 menjangkau 230.830 penerima dengan total anggaran sekitar Rp277 miliar.

Pada kegiatan Upacara Peringatan Hari Santri Nasional (HSN), ia meminta para santri ikut menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

"Stabilitas daerah menjadi salah satu syarat penting bagi keberhasilan pembangunan terlebih di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.

Potensi ini harus kita kelola dan kita gandeng untuk menjadi cooling system, atau penyejuk di tengah masyarakat," katanya.