NADIKABAR.COM — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengupayakan pengambilalihan proses pengusulan cagar budaya untuk kawasan adat Bayan di Kabupaten Lombok Utara, untuk memperkuat perlindungan warisan sejarah dan budaya setempat.

Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengatakan, "Mulai pengajuan itu sebenarnya dari Lombok Utara, tapi mudah-mudahan kami bisa ambil alih ke nasional karena ada hal-hal tertentu yang memang membuat kami harus mengajukan secara provinsi," ujarnya di Mataram, Rabu.

Ihwan menegaskan pengusulan status cagar budaya untuk kawasan adat Bayan tidak hanya terhadap bangunan tertentu yang berada di dalamnya, tetapi dilakukan secara menyeluruh.

Saat ini hanya Masjid Kuno Bayan yang telah menyandang status cagar budaya, sedangkan kawasan adat Bayan secara keseluruhan belum memperoleh status tersebut.

Tenaga ahli cagar budaya yang belum tersedia di Kabupaten Lombok Utara menjadi kendala dalam proses pengusulan cagar budaya bagi kawasan adat yang berdiri sejak abad ke-14 masehi tersebut.

Ihwan berharap proses pengusulan melalui pemerintah provinsi dapat segera ditindaklanjuti agar kawasan adat Bayan memperoleh perlindungan menyeluruh sebagai bagian dari warisan budaya kebendaan di Nusa Tenggara Barat.

Kawasan adat Bayan merupakan salah satu pusat kebudayaan tertua di Pulau Lombok. Masyarakat Bayan saat ini masih mempertahankan arsitektur tradisional, ritual adat, hingga tata kehidupan sosial yang diwariskan secara turun-temurun.

Pada 19 Februari 2026, beberapa bangunan adat Bayan di Desa Bayan Timur, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara mengalami kebakaran. Material utama bangunan yang terbuat dari kayu dan ilalang membuat api cepat melahap bangunan tersebut.

Objek benda budaya yang terbakar berupa dua bangunan adat, satu lumbung padi, dan dua unit rumah dengan kerugian sekitar Rp1,15 miliar.

Pemerintah Nusa Tenggara Barat bersama Kementerian Kebudayaan mengalokasikan Rp400 juta untuk membangun kembali rumah adat Bayan yang hangus terbakar tersebut.

Anggaran itu mencakup pembangunan bangunan utama (dua bangunan yang dimulai dari nol), termasuk pagar dan biaya operasional pembangunan serta pembangunan lumbung baru. Saat ini progres pembangunan sudah mencapai 75 persen.