Menurut Fathul, penyerahan tersebut patut dimaknai bukan sekadar sebagai penyerahan dokumen administratif, tetapi sebagai capaian penting dalam perjalanan pelaku usaha untuk menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan.

"Kami berharap keberhasilan para pelaku usaha yang menerima NIE dan sertifikat hari ini dapat menjadi inspirasi bagi UMKM lainnya untuk terus meningkatkan kualitas produk, memenuhi standar, memperkuat legalitas, dan memperluas pasar. Ini bukti nyata bahwa pendampingan dapat membantu UMKM memenuhi persyaratan dan naik kelas," ujarnya.

Fathul menegaskan pengembangan produk unggulan daerah tidak dapat dilakukan oleh satu pihak.

Pemerintah daerah membutuhkan dukungan regulator, perguruan tinggi membutuhkan mitra industri, peneliti membutuhkan akses terhadap regulasi dan hilirisasi, sementara pelaku usaha membutuhkan inovasi, pendampingan, dan kepastian regulasi.

Karena itu, kolaborasi antara Pemerintah Provinsi NTB, Badan POM, Universitas Mataram dan perguruan tinggi lainnya, peneliti, mahasiswa, pelaku usaha, serta asosiasi perlu terus diperkuat.

"Sinergi ini diharapkan membentuk ekosistem yang memungkinkan hasil riset berkembang menjadi produk, UMKM naik kelas, produk lokal semakin kompetitif, dan pada akhirnya memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat NTB," katanya.

Pemprov NTB berharap rangkaian kegiatan ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal dari kolaborasi yang semakin konkret dan berkelanjutan.

"Kami berharap semakin banyak mahasiswa yang memahami regulasi sejak dini, semakin banyak penelitian perguruan tinggi yang dapat dihilirisasi, semakin banyak UMKM yang memperoleh izin edar dan sertifikasi, serta semakin banyak produk unggulan NTB yang mampu memasuki pasar nasional bahkan pasar global," sebut Fathul Gani.