"Berdasarkan pembaruan lapangan per 15 Oktober 2026, sekitar 45 rumah adat telah mulai dibangun secara bertahap melalui gotong royong masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Pembangunan fasilitas bersama juga menjadi bagian dari perkembangan rekonstruksi, termasuk masjid dan museum. Namun, pekerjaan masih berlangsung dan kebutuhan lanjutan tetap perlu dipetakan sesuai kondisi setiap bangunan dan keluarga terdampak," kata Faozal.Ia mengatakan dukungan pemerintah pusat turut memperkuat proses rekonstruksi. Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) memberikan perhatian terhadap rekonstruksi rumah adat dan penataan kawasan, sedangkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendukung pemulihan penghidupan masyarakat melalui bantuan peralatan usaha bagi pelaku UMKM, perajin tenun, dan perajin non-tenun.

Sejumlah perusahaan, lembaga, komunitas, perguruan tinggi, dan donatur turut berkontribusi melalui dukungan pembangunan, peralatan rekonstruksi, bantuan sosial, serta pemulihan kegiatan ekonomi masyarakat."Semangat gotong royong yang tumbuh di Sade adalah modal besar untuk bangkit. Pemerintah bersama seluruh mitra akan terus memperkuat koordinasi dan mengawal kebutuhan rekonstruksi. Harapan kita pada akhir Desember 2026 seluruh pekerjaan yang direncanakan dapat dituntaskan sehingga masyarakat kembali menjalani kehidupan dengan aman, kegiatan ekonomi pulih, dan identitas budaya Sade tetap lestari," katanya.