NADIKABAR.COM — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan melalui Dinas Perhubungan (Dishub) setempat menyatakan pembangunan lapangan terbang atau Lapter di Distrik Wari, Kabupaten Tolikara, menggerakkan perekonomian warga di daerah tersebut.

Distrik Wari, merupakan wilayah Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan yang berada di dataran rendah dan pedalaman yang berbatasan dengan Kabupaten Mamberamo Raya, Papua.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dishub Papua Pegunungan Jimmy Yoku dalam keterangannya di Wamena, Rabu, mengatakan dengan pembangunan Lapter di Distrik Wari, Kabupaten Tolikara, maka akses transportasi masyarakat daerah itu semakin terbuka dalam berbagai bidang salam satunya saat akan menjual hasil perkebunan dan pertaniannya.

“Tentu dengan adanya Lapter ini masyarakat sangat terbantu dalam hal transportasi, apalagi hasil perkebunan dan pertaniannya yang dapat dijual keluar dari Wari dengan menggunakan transportasi yang nantinya memperoleh subsidi dari pemerintah,” katanya.

Menurut dia, sasaran utama dibangunnya Lapter di daerah pedalaman Papua Pegunungan ini adalah untuk mempermudah akses bagi masyarakat dari dan ke daerah itu.

“Bapak gubernur memberikan atensi besar agar masyarakat di daerah pedalaman memperoleh kemudahan untuk ke kota, selain itu akses transportasi juga menjadi modal utama dalam meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujarnya.

Dia menjelaskan panjang dan lebar Lapter Wari Kabupaten Tolikara yang dikerjakan sejak tahun lalu yakni 800 meter dan 18 meter.

“Panjang dari Lapter Wari kurang lebih 800 meter dan lebar 18 meter. Kami melakukan pengerasan di landasan karena tanahnya labil sehingga perlu penguatan supaya pesawat berbadan kecil yang mendarat dalam kondisi baik,” katanya.

Dia menambahkan pembangunan Lapter di Distrik Wari Kabupaten Tolikara dimulai sejak 2025 untuk membuka keterisolasian dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.

“Pembangunan Lapter Wari telah dilakukan sejak l 2025 dan anggaran yang digunakan dalam pembangunan lapter tersebut kurang lebih Rp10 miliar meski di tengah keterbatasan anggaran atau efisiensi. Kami memastikan lapter lainnya yang telah direncanakan di Papua Pegunungan akan dikerjakan secara bertahap, karena kami fokus menyelesaikan satu lapter sebelum mengerjakan yang lain,” ujarnya.