Namun, versi pertama ini berakhir gagal karena mesin-mesinnya terlalu berdekatan dan ujung corong (nozzle) terlalu dekat dengan tanah. Akibatnya, gas panas yang dikeluarkan melalui saluran pembuangan (outtake) kembali terhisap ke dalam saluran masuk (intake), memicu kebakaran.
"Saya memilih turbojet karena ukurannya dan daya dorongnya yang tinggi, dan lebih terlihat futuristik seperti di film science fiction," kata Ayu.
Akhirnya, Ayu memasukkan data uji ke agen AI dan mengikuti sarannya untuk beralih ke mesin berbasis listrik, konsepnya mirip seperti drone. Ia menggunakan 10 unit penggerak yang masing-masing memiliki gaya dorong sebesar 30 kilogram dengan arus puncak 2.000 ampere.
Meski telah berhasil membuat hoverboard yang lebih aman dan lebih kuat, ia masih menemukan masalah lain terkait kontrol dan keseimbangan.