NADIKABAR.COM β Upaya mencegah penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia perlu diperkuat sejak usia remaja dengan memastikan edukasi, layanan kesehatan, dan lingkungan yang mendukung pola hidup sehat dapat menjangkau generasi muda.
βInvestasi pada kesehatan generasi muda berarti investasi bagi masa depan Indonesia. Sejalan dengan visi Indonesia menuju Generasi Emas 2045, penting untuk membekali generasi muda dengan pengetahuan dan kemampuan agar mereka dapat membuat pilihan yang lebih sehat sejak dini,β kata Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia Esra Erkomay dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.
Esra menyampaikan Indonesia memiliki sekitar 47 juta remaja berusia 10 sampai dengan 19 tahun atau sekitar 17 persen dari total populasi. Pada kelompok usia tersebut masih terdapat sejumlah tantangan kesehatan, termasuk masalah gizi, obesitas, dan penggunaan tembakau.
Oleh karena itu, upaya pencegahan sejak dini perlu dilakukan melalui sekolah, layanan kesehatan, dan komunitas untuk mendorong generasi muda menerapkan pola hidup lebih sehat sekaligus mengurangi risiko penyakit tidak menular.
Lembaga tersebut menjalin kemitraan dengan UNICEF Indonesia sejak 2020 terkait peningkatan kesehatan remaja, yang dilakukan melalui edukasi dan promosi kesehatan, program aksi yang dipimpin generasi muda, penguatan layanan kesehatan, serta pengembangan kebijakan dan sistem yang mendukung kesehatan remaja.
Program tersebut juga memperkenalkan skrining penggunaan tembakau di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Program itu sudah menjangkau 2,5 juta anak muda di Indonesia. Selain itu, lebih dari 25 ribu remaja dan 350 advokat muda telah mendapatkan pelatihan, sementara 120 pemimpin muda dibekali untuk berkontribusi dalam penyusunan pedoman kesehatan remaja nasional.
Perwakilan UNICEF Indonesia Thomas Davin mengatakan kemitraan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat layanan kesehatan remaja agar lebih responsif terhadap kebutuhan mereka serta memastikan suara generasi muda tercermin dalam kebijakan dan program yang memengaruhi kesehatan mereka.
βDalam lima tahun ke depan, kemitraan ini akan membantu lebih banyak remaja menerapkan perilaku sehat dan mengatasi dampak perubahan iklim yang semakin besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka,β ujar Davin.
Upaya tersebut juga mencakup penguatan kebijakan pengendalian tembakau. Para advokat muda yang bergabung dengan Young Health Programme berkontribusi dalam upaya penguatan kebijakan yang kemudian tercermin dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024, termasuk peningkatan batas usia minimum pembelian produk tembakau dari 18 menjadi 21 tahun serta perluasan pengaturan terhadap rokok elektronik.
Selama lima tahun ke depan kolaborasi tersebut akan berfokus pada tiga hal yakni mendorong perilaku hidup sehat dan peran aktif generasi muda, memperkuat lingkungan dan layanan yang responsif terhadap kebutuhan remaja, serta mendukung penguatan kebijakan, bukti, dan sistem pendukung kesehatan remaja dan pencegahan PTM.
Penguatan edukasi PTM di sekolah, komunitas, dan platform digital, serta peningkatan kesadaran, skrining, dan tindak lanjut juga menjadi bagian dari upaya tersebut.