NADIKABAR.COM — Peneliti utama di Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN), Safarina G. Malik, mengatakan perubahan iklim berdampak terhadap penurunan produktivitas kerja.
"Dari meta-analisis dari 111 studi di 30 negara menemukan satu shif kerja di bawah tekanan panas meningkatkan risiko heat strain, empat kali lipat lebih tinggi. Menjadi lebih lelah, dehidrasi, menurunnya fokus, dan menurunnya kesehatan mental," kata Safarina G. Malik di Jakarta, Kamis.
Hal itu dikatakannya dalam Forum Dialog Kebijakan Nasional, Dampak Krisis Iklim terhadap Kesehatan Fisik dan Mental Petani dan Nelayan di Indonesia.
Dampak krisis iklim pada siang hari, beban tubuh menjadi empat kali lebih berat meski melakukan pekerjaan yang sama.
Penelitian tersebut mencatat ada 35 persen pekerja mengalami heat strain dan 30 persen pekerja kehilangan produktivitas.
"92,3 persen responden dalam survei ini melaporkan kerja mereka melambat karena panas," kata Safarina G. Malik.
Sementara penelitian lainnya di 21 negara, menemukan bahwa hawa panas menaikkan suhu tubuh, denyut jantung, dan dehidrasi.
"Tidak heran mereka sangat tidak produktif dan lelah. Namun para pekerja tetap bekerja lebih keras dari yang seharusnya karena mereka harus memenuhi kebutuhan pangan, rumah tangga, dan tempat tinggal," kata peneliti senior di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman pada 1994 - 2021 ini.
Menurut dia, risiko kesehatan inilah yang dialami petani dan nelayan Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim.
"Dilema petani dan nelayan kita, berhenti (bekerja) demi kesehatan atau terus bekerja demi pendapatan," katanya.
Dia menegaskan dampak krisis iklim tidak hanya pada aspek lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat, produktivitas tenaga kerja, ketahanan pangan, hingga kesejahteraan sosial ekonomi kelompok yang bekerja di sektor pertanian dan perikanan.