Sampel kedua ditemukan di Leang Cappa Lombo, Bone, berasal dari masa Holosen Tengah antara 7.600 hingga 6.300 tahun lalu, di mana pola keausan melingkar yang sama ditemukan pada individu dewasa berjenis kelamin laki-laki berusia sekitar 33–50 tahun (dikenal sebagai spesimen CPL-R2).

Berdasarkan studi groundbreaking yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances oleh para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN bahwa manusia purba di Sulawesi telah menggunakan zat psikoaktif pengubah kesadaran sejak ribuan tahun.

Peneliti Geoarkeologi dari Griffith University Australia Basran Burhan menuturkan, teka-teki bentuk gigi yang tidak biasa ini awalnya sempat disangka sebagai alat bantu kerja tangan (tools).

"Waktu itu kita menganggap mungkin dipakai untuk memelintir kalau mau membuat tali atau semacamnya. Makanya tingkat keausan giginya sangat drastis, tidak normal," kata Basran sembari menyebut hipotesisnya bergeser setelah ditemukan benda berbetuk bulat yang dikulum di dalam rongga mulutnya.

Untuk membuktikan hipotesis tersebut, tim peneliti menerapkan metode analisis biomolekuler yang sangat canggih dan non-destruktif, yaitu Liquid Chromatography-Mass Spectrometry (LC-MS). Sampel karang gigi direndam larutan khusus untuk mendeteksi residu zat Kimia terkecil tertanam dalam jaringan gigi.