"Jika Mesir bisa menahan salah satu pemimpin redaksi yang paling dihormati di negara itu dan menutup ruang redaksinya, tak ada satu pun jurnalis independen di Mesir yang bisa merasa aman," kata Direktur Regional CPJ, Sara Qudah.

Senator Amerika Serikat Chris Van Hollen juga mengkritik proses hukum tersebut. Ia menyebut tuduhan terhadap Attalah tidak berdasar dan menegaskan bahwa "jurnalisme bukanlah kejahatan."

Kasus ini terjadi di tengah tekanan yang semakin besar terhadap media dan jurnalis independen di Mesir.

Pada September, enam jurnalis dari platform pemeriksa fakta Matsadaash ditangkap. Mereka kemudian dijerat dengan tuduhan terkait tindak pidana terorisme.

Pemerintah Mesir menuduh keenamnya memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin, organisasi yang telah dilarang di negara tersebut. Mereka juga dituduh menyebarkan informasi palsu untuk mengikis kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga negara dan memicu aksi protes.

Menurut EIPR, para jurnalis tersebut mengaku mengalami penyiksaan setelah ditangkap. Namun, Kementerian Dalam Negeri Mesir membantah tuduhan itu.

Pada Selasa (27/10), jaksa kembali memperpanjang masa penahanan keenam jurnalis tersebut selama 15 hari, meski persidangan mereka belum dimulai. Organisasi hak asasi manusia memperingatkan bahwa penahanan sebelum persidangan semacam ini bisa berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Berdasarkan data EIPR, saat ini ada 26 jurnalis yang ditahan di Mesir akibat pekerjaan jurnalistik mereka.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris