"Korban membawa barangbang (dahan kelapa kering), dia juga sempat melempar tanah ke muka saya," kata Ayi.
Ayi kemudian memutar posisi goloknya. Saat korban mengayunkan dahan kelapa, Ayi menangkisnya dengan tangan kiri dan langsung melayangkan sabetan fatal ke arah leher korban dengan tangan kanan. Ki Danu seketika ambruk bersimbah darah. Ayi mengaku sempat terpaku melihat kondisi korban sebelum akhirnya ditegur oleh ayahnya.
"Setelah itu saya diam saja, bapak menghampiri, "naha a nepi ka kieu? (mengapa A sampai begini?), ya memarahi saya," kata Ayi.
Ia membenarkan bahwa seluruh adegan tersebut disaksikan langsung oleh orang tuanya yang terus menjerit ketakutan. "Iya dilihat bapak dan ibu sambil menjerit-jerit," kata Ayi.
Usai kejadian, Ayi pulang ke rumah untuk membersihkan diri dan senjatanya. Ia mengaku tidak berniat melarikan diri dan berencana menyerahkan diri ke pihak berwajib.
"Terus pulang ke rumah, sempat mencuci tangan karena darah. Golok dimasukan ke tas, sudah niat mau ke Polsek," kata Ayi.
Kini, Ayi hanya bisa menyesali perbuatannya. Tangisnya pecah saat teringat istri dan anak-anaknya yang berada di Bandung. Ia menjelaskan bahwa keberadaannya di Karangjaya sebenarnya hanya untuk menjenguk anak sulungnya yang baru masuk pesantren.
"Istri ada di Bandung, saya juga tinggal di Bandung, kemarin pulang ke Karangjaya untuk menengok anak yang paling besar. Dia tinggal sama kakeknya, baru kemarin masuk pesantren," kata Ayi menutup keterangannya.