"Karena persoalannya bukan semata hanya harga pangan yang meningkat atau suku bunga yang masih relatif tinggi, tetapi juga karena pertumbuhan pendapatan masyarakat yang belum mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup," tuturnya.
Dengan kata lain, pada pendapatan nominal tidak naik secepat biaya hidup dan kebutuhan tetap, maka disposible income menyusut. Konsekuensinya adalah masyarakat, khususnya rumah tangga merubah gaya hidupnya, mengurangi atau menunda pembelian-pembelian barang dan bahkan menurunkan barang dan jasa yang akan dibeli.
Di satu sisi, lanjut dia, pemerintah sudah berupaya menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan. Namun, di sisi lain, kelas menengah justru menghadapi tekanan yang cukup besar karena sebagian besar tidak tercakup dalam bantuan sosial yang jangka pendek, sementara beban pengeluaran dan cicilan terus meningkat.