NADIKABAR.COM β Guru Besar Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Prof Dr Joy Tulung mengatakan harga cabai rawit yang tinggi bisa mendorong angka inflasi Sulawesi Utara (Sulut) sebesar 4,2 persen secara YonY di tahun 2026.
"Lonjakan harga cabai rawit hingga Rp200 ribu per kilogram tidak dapat lagi dianggap sebagai fluktuasi musiman biasa, ini merupakan sinyal kuat terjadinya gangguan pasokan akibat kemarau panjang, turunnya produksi, dan berkurangnya pasokan dari daerah penghasil," kata Joy, di Manado, Jumat.
Dia mengatakan posisi Sulawesi Utara memasuki September memang sudah cukup tertekan. Pada Agustus 2026, Sulut mengalami inflasi 0,29 persen secara bulanan dan 3,99 persen secara tahunan. Inflasi tahunan Kota Manado bahkan mencapai 4,21 persen.
Cabai rawit dan kangkung telah menjadi pendorong utama inflasi Agustus, karena harga cabai sudah naik sejak akhir Agustus dan mencapai Rp180 ribuβRp200 ribu pada awal September, terdapat efek lanjutan terhadap inflasi September.
Namun, katanya, harga Rp200 ribu pada satu atau dua pasar tidak otomatis berarti inflasi meningkat sebesar persentase kenaikan harga cabai, karena inflasi dihitung berdasarkan seluruh kelompok barang dan rata-rata harga selama periode pencacahan.
Apabila harga tersebut hanya berlangsung beberapa hari kemudian pasokan segera pulih, dampaknya masih dapat dibatasi.