Sebaliknya, jika harga Rp180 ribu–Rp200 ribu bertahan selama dua hingga tiga minggu dan terjadi di sebagian besar pasar, cabai rawit berpotensi menyumbang beberapa persepuluh poin persentase terhadap inflasi.

Dalam skenario tersebut, katanya, inflasi Sulut pada September berisiko berada sekitar 0,3–0,6 persen secara bulanan, sehingga inflasi tahunannya dapat bergerak ke kisaran 4,2–4,5 persen.

"Ini merupakan skenario risiko, bukan angka proyeksi resmi, karena masih bergantung pada pergerakan harga tomat, bawang, beras, ikan, dan angkutan udara," katanya.

Dampaknya juga lebih luas dari pada angka inflasi. Kenaikan harga cabai akan meningkatkan pengeluaran rumah tangga serta biaya produksi rumah makan, katering, dan UMKM kuliner. Jika pelaku usaha menaikkan harga makanan, tekanan yang semula bersifat sementara dapat menyebar ke komoditas lain dan bertahan lebih lama.

Langkah Pemprov Sulut untuk mendatangkan pasokan dari luar daerah sudah tepat, kata Joy, tetapi harus segera diwujudkan dalam volume yang cukup.