"Tapi harus dipahami bahwa publik tidak akan mengetahui hal-hal semacam itu. Publik hanya akan melihat apa yang tampak di permukaan secara langsung, dan kita harus maklum kalau kemudian itu mendapatkan penafsiran yang berbeda dan menimbulkan kesalahpahaman yang tinggi," katanya.

Menurut Dedi, anggapan bahwa Teddy mengusir pejabat LRT sulit diterima apabila melihat konteks kegiatan Presiden yang saat itu berkaitan dengan LRT.

"Padahal kalau kita berkaca pada realitas yang mungkin muncul, sebetulnya tidak akan mungkin Seskab Teddy mengusir pejabat LRT sementara agenda Presiden bersama LRT. Itu saya kira sesuatu yang mustahil," ujarnya.

Dedi mengatakan pemindahan posisi sejumlah orang di dalam gerbong dilakukan untuk memberikan ruang bagi Presiden dan penumpang penyandang disabilitas.

"Tapi hanya memindahkan posisi agar ada ruang bagi Pak Prabowo dan juga salah satu penumpang yang disabilitas itu, Prof. Itu kan tindakan-tindakan momentum, bukan tindakan formal, bukan disposisi," katanya.