NADIKABAR.COM — Akademisi sekaligus pengamat radikalisme dan terorisme Amir Mahmud menilai penguatan Pancasila perlu dilakukan melalui pendidikan, literasi, dialog kebangsaan, dan ketahanan sosial untuk menghadapi ideologi ekstrem serta politik pecah belah di ruang digital.

"Pancasila sangat efektif menjadi jembatan perbedaan. Dari Sabang sampai Merauke, dari perbedaan suku, ras hingga agama, semua bisa diakomodasi," ujar Amir dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Dosen Pascasarjana Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta itu mengatakan masyarakat Indonesia yang majemuk membutuhkan nilai bersama untuk mengelola perbedaan agar tidak berkembang menjadi segregasi, intoleransi hingga konflik terbuka.

"Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan adalah kenyataan sosial yang harus dikelola melalui kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan," ujar dia.

Menurut dia, ideologi ekstrem kini semakin mudah menyebar melalui media sosial dengan membawa narasi kebencian, intoleransi, dan ajakan kekerasan yang dikemas menggunakan bahasa agama maupun nasionalisme.

Oleh karena itu, penanganan ekstremisme dan radikalisme tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan keamanan.

"Ekstremisme dan radikalisme yang mendorong kebencian dan kekerasan perlu dihadapi bukan hanya dengan pendekatan keamanan, tetapi juga melalui pendidikan, literasi, dialog serta penguatan ketahanan sosial," kata dia.

Direktur Amir Mahmud Center itu mengatakan pendekatan keamanan diperlukan ketika ujaran kebencian telah berkembang menjadi tindakan fisik bersenjata. Sementara pada tahap wacana dan propaganda, literasi dan dialog menjadi instrumen penting untuk mencegah berkembangnya paham intoleran.

"Sepanjang masih dalam bentuk ujaran kebencian atau ketidaksukaan, ini hanya bisa dihadapi dengan cara literasi dan dialog," ujar Amir.

Amir juga mendorong penguatan Pancasila tidak berhenti pada tingkat elite, tetapi menjangkau masyarakat hingga tingkat kelurahan melalui focus group discussion (FGD) dan forum diskusi terbuka yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang.

"Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk mengenali bahwa narasi intoleransi, radikalisme, dan terorisme itu berpotensi merusak tatanan sosial berbangsa dan bernegara," ujar Amir.

Ia menilai upaya menghadapi ideologi transnasional dan politik pecah belah perlu diarahkan pada penguatan kesadaran kebangsaan, bukan dengan menciptakan kebencian baru terhadap kelompok yang berbeda.

"Memerangi ideologi transnasional dan meneguhkan Pancasila dilakukan bukan dengan membangun kebencian baru, melainkan dengan memperkuat dialog, literasi, dan kesadaran kebangsaan. Ini baru luar biasa," ucapnya.

Menurut Amir, Hari Kesaktian Pancasila semestinya menjadi momentum untuk merefleksikan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan negara.

"Indonesia ini bangsa yang sangat majemuk, kita membutuhkan titik temu yang memungkinkan perbedaan itu tetap hidup tanpa berubah menjadi konflik. Itulah semangat pluralitas yang dijunjung tinggi oleh para pahlawan kita," ungkapnya.

Ia menyerukan agar masyarakat terus memahami dan mengkaji relevansi Pancasila melalui praktik kehidupan sehari-hari.

"Pancasila harus terus dipahami, dikaji, dan dibuktikan relevansinya melalui praktik kehidupan masyarakat. Ukuran kekuatan Pancasila itu bukan sekadar seberapa sering kita mengucapkannya atau mengikrarkannya, melainkan seberapa jauh nilai-nilai tersebut mampu menjawab persoalan nyata bagi bangsa ini," ujarnya.