NADIKABAR.COM — Guru Besar Fisipol UGM sekaligus pengamat ketenagakerjaan, Prof Dr Tadjuddin Noer Effendi, MA, menyoroti jumlah pengangguran lulusan D4, S1, hingga S3 yang mencapai 1,033 juta menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Mei 2026. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja.
Prof Tadjuddin menilai, pendidikan tinggi cenderung hanya fokus memberikan bekal teori. Padahal, dunia kerja membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan praktis.
"Dunia pendidikan banyak memberikan teori, sedangkan dunia kerja mencari orang yang sudah terampil. Pada umumnya sarjana itu datang bawa ijazah ke perusahaan, bukan bawa keterampilan," jelasnya, dikutip dari laman UGM, Kamis (20/8/2026).
Fenomena sulitnya lulusan mendapatkan pekerjaan menjadi tren global. Hal ini umumnya disebabkan oleh bergesernya kebutuhan dunia kerja hingga masuknya artificial intelligence (AI) yang mengerjakan pekerjaan milik pemula.
Menurut Prof Tadjuddin, pasar kerja saat ini tak lagi hanya memandang gelar, melainkan kemampuan dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi. Di sisi lain, banyak lulusan yang keluar dari kampus, belum memiliki keterampilan yang memadai.
"Ijazah yang dimiliki belum cukup menjadi dasar bagi perusahaan untuk menerima lulusan apabila tidak disertai keterampilan. Jadi kalau sarjana hanya bawa ijazah mencari kerja itu kelihatannya sekarang sulit," paparnya.