Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Agus Sartono, mengatakan bahwa untuk mengatasi tingginya pengangguran lulusan kampus, pemerintah perlu melakukan revitalisasi pendidikan. Salah satunya adalah dengan meningkatkan akses, mutu, dan relevansi penyelenggaraan pendidikan vokasi sesuai kebutuhan pasar kerja.

"Pemerintah kala itu juga membuat rencana pembangunan politeknik di berbagai kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus. Tujuannya, selain mencetak tenaga kerja level menengah yang siap kerja, juga membekali calon entrepreneur muda," ujarnya.

Menurut Agus, strategi pengembangan politeknik ini perlu dilanjutkan agar setidaknya dapat mengurangi pencari kerja lulusan SMA yang minim kompetensi. Berbekal pendidikan vokasi, diharapkan tercipta wirausaha baru yang mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya maupun orang lain.

Hal senada juga disampaikan oleh Prof Tadjuddin. Ia berpendapat bahwa pemerintah dan perguruan tinggi perlu memperkuat pusat pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja.

"Kalau itu dapat terealisasi dengan baik, kemungkinan besar dalam dua atau lima tahun dapat menciptakan mungkin satu sampai dua juta penyerap pengangguran terdidik," pungkasnya.