Di samping persoalan kompetensi lulusan, menurutnya struktur ekonomi Indonesia juga belum betul-betul mampu menghadirkan lapangan pekerjaan berkualitas, utamanya sektor industri. Selama ini industri padat karya merupakan salah satu penyerap tenaga kerja. Akan tetapi, biaya bahan baku impor dan melemahnya daya beli masyarakat menyebabkan tekanan terhadap industri padat karya.
"Kondisi ini mendorong perusahaan melakukan efisiensi, termasuk mengurangi jumlah tenaga kerja," terangnya.
Untuk meningkatkan keterampilan sejak kuliah, pemerintah menyediakan program magang dalam beberapa tahun terakhir. Prof Tadjuddin menilai langkah ini bisa membantu mahasiswa mendapatkan pengalaman dan keterampilan kerja.
Meski begitu, daya tampung magang dinilai masih terlalu kecil. Ia mengatakan, pemerintah perlu memperluas pusat pelatihan kerja modern yang berorientasi pada kebutuhan industri.
"Seharusnya perlu pendirian pusat pelatihan yang dapat menjadi jalan lebih cepat untuk meningkatkan keterampilan lulusan, khususnya pada sarjana yang belum terserap pasar kerja," tuturnya.