Kegiatan itu nantinya akan diikuti dengan proyek percontohan pelaksanaan "Camino de Flores" Etape Barat (Labuan Bajo-Ruteng), Etape Timur (Maumere-Larantuka), dan seluruh etape.

Menteri Pariwisata menyampaikan bahwa pelaksanaan proyek percontohan ditujukan untuk mempromosikan kegiatan sekaligus mengukur kesiapan teknis, operasional, dan kelembagaan serta tingkat partisipasi pihak-pihak terkait di daerah tujuan.

"Evaluasi dari operasional pilot project ini akan menghasilkan peta rute final, standar kelayakan, dan profil risiko yang menjadi landasan pengembangan 'Camino de Flores' menjadi paket wisata yang berkelanjutan," katanya.

Ia menambahkan, program itu selanjutnya akan diperkenalkan kepada mitra pelaku usaha sebagai pilihan paket layanan perjalanan wisata spiritual yang dapat dipasarkan oleh agen perjalanan dan tur operator.

Kementerian Kementerian Pariwisata bersama BPOLBF juga menyusun dokumen penilaian risiko dan rencana tanggap darurat berkenaan dengan pelaksanaan "Camino de Flores."

"Kami memastikan kesiapan infrastruktur keselamatan dan keamanan, mulai dari penyiagaan road marshal, pos kesehatan, water station mobile, hingga mitigasi cuaca dan elevasi rute yang menantang," kata Menteri Pariwisata.