Di lain sisi, ingin pulang ke rumah menjadi kerinduan para pengungsi. Namun, gempa susulan yang terus terjadi terpaksa mengurungkan niat. Masyarakat tiga desa itu selama ini menggantungkan hidup sebagai nelayan. Hasil melaut itu kemudian dijual ke Mbay, Ibu Kota Nagekeo.

"Sebagian besar sebagai nelayan. Ada juga yang jadi petani di sawah. Tapi kalau begini kami tidak kerja, uang mau dapat dari mana," kata Siti.

Pengungsi lainnya, Nunung, juga merasakan trauma yang sama. Setiap kali terjadi gempa susulan, dia selalu takut, bahkan langsung berlari keluar dari pos pengungsian.

"Masih takut sampai sekarang. Tadi malam ada sekitar empat kali gempa susulan, itu saya takut sekali karena masih trauma dengan gempa M 7,7 yang lalu itu," kata perempuan berjilbab hitam itu.