Sepanjang Januari-Juli 2026, industri tekstil dan pakaian jadi serta industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki mencatat surplus perdagangan gabungan sebesar US$ 5,6 miliar. Rizal menilai capaian ini menunjukkan besarnya kontribusi kedua sektor tersebut terhadap perdagangan luar negeri Indonesia.
"Industri ini tidak hanya menghasilkan produk untuk kebutuhan masyarakat, tetapi juga memberikan pemasukan dari pasar ekspor. Potensinya masih besar. Karena itu, kami berharap dukungan terhadap pelaku usaha bisa terus berlanjut agar peluang yang ada dapat dimanfaatkan lebih luas," ujarnya.
Rizal berharap Sarmuji dapat melanjutkan dukungan terhadap industri sekaligus membuka ruang bagi pelaku usaha menyampaikan kebutuhan dan kendala di lapangan. Menurutnya, kepastian kebijakan menjadi salah satu pertimbangan perusahaan dalam menyusun rencana usaha.
"Kami berharap Bapak Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dapat lebih terbuka dan menerima masukan-masukan dari industri, serta meneruskan dan memperkuat kebijakan yang sudah berjalan baik. Bagi pelaku usaha, kepastian itu penting karena rencana investasi dan pengembangan usaha tidak dibuat untuk satu atau dua bulan saja," terangnya.
Meski pertumbuhan menguat, AGTI menilai masih ada sejumlah tantangan yang perlu dibahas bersama pemerintah, mulai dari daya saing, biaya energi dan logistik, pembaruan mesin, bahan baku, hingga akses pasar.