"Penelitian terbaru pada sapi dan kerbau menunjukkan bahwa beberapa kasus dicephalia dan diprosopia mempunyai asal monozigot, berdasarkan pemeriksaan molekuler yang menunjukkan kedua kepala memiliki profil genetik yang sama," jelas Yanuar.
Ia menegaskan kelahiran anak kerbau kembar siam belum tentu karena faktor keturunan. Penyebab kelainan bawaan pada fetus sapi atau kerbau dapat dikelompokkan secara umum menjadi faktor genetik/herediter. Misalkan gangguan perkembangan embrio, gangguan nutrisi tertentu, infeksi selama kebuntingan, dan faktor lingkungan lainnya.
Khusus untuk kasus kerbau berkepala dua kepala, Yanuar menyebut penyebab pasti sering tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan pemeriksaan luar. Bahkan pada beberapa laporan kasus sapi, pemeriksaan tidak menemukan penyebab etiologis yang pasti.
"Karena itu, tidak tepat langsung menyimpulkan bahwa kerbau tersebut pasti hasil perkawinan sedarah atau pasti karena kelainan genetik tanpa pemeriksaan lebih lanjut," tegas dia.
Yanuar lantas menjelaskan penyebab induk kerbau kesulitan melahirkan anak kembar siam tersebut. Menurut dia, kepala fetus merupakan bagian yang paling besar dan keras. Jika terdapat dua kepala, diameter bagian depan fetus menjadi jauh lebih besar dan bentuknya tidak normal.
"Akibatnya fetus dapat mengalami distokia (kesulitan melahirkan) karena kedua kepala tidak dapat melewati jalan lahir secara normal. Risiko distokia meningkat seiring semakin lengkapnya duplikasi kepala," kata Yanuar.
Anak kerbau kembar siam, dia melanjutkan, memiliki peluang hidup yang kecil. Ia menyebut banyak kasus anak ternak kembar mati sebelum lahir.
"Prognosis umumnya sangat buruk, terutama bila terdapat kelainan pada otak, jantung, saluran pernapasan, atau organ vital lainnya. Banyak kasus polycephaly/dicephalia pada ruminansia dilaporkan lahir mati atau mati tidak lama setelah kelahiran," jelas Yanuar.