Yanuar menjelaskan jika kejadian berulang pada induk yang sama atau pada garis keturunan tertentu, aspek genetik perlu mendapat perhatian lebih serius. Literatur veteriner menunjukkan adanya kelainan fetus sapi yang bersifat herediter, walaupun tidak semua kelainan kongenital bersifat genetik.

"Penyebab spesifik pada satu kasus tidak dapat dipastikan hanya dari bentuk luar dan perlu pemeriksaan veteriner/patologi untuk menentukan tipe serta kemungkinan faktor penyebabnya," pungkasnya.

Sebelumnya, kasus kelahiran anak kerbau berkepala dua terjadi di Kampung Pinggong, Desa Golo Ndaring, Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, Selasa (25/8). Proses kelahiran kerbau kembar siam itu dibantu tim Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kecamatan Sano Nggoang.

"Kami ke TKP, dengan kondisi anak kerbau sudah mati, posisi awal kami coba sesuaikan dengan kondisinya, suntik hormon perangsang, setelah itu sambil rogoh dan tarik pelan, tapi tidak bisa," ungkap koordinator Puskeswan Kecamatan Sano Nggoang, Syprianus Andi, Kamis (27/8).

Syprianus kemudian memastikan anak kerbau itu kembar setelah ditemukan telinga berbeda pada kepala dengan posisi salah satu kepala menutup jalan lahir. Menurut dia, proses melahirkan anak kerbau kembar siam itu cukup rumit. Petugas Puskeswan memotong leher salah satu kepala anak kerbau tersebut.

"Melalui pertimbangan dengan pemilik, kami lakukan pemotongan leher (fetotomi). Ketika kepala sudah terpotong, dengan sendirinya kepala kembaran putar pada posisi normal, dan akhirnya bisa keluar," jelas Syprianus.

"Prosesnya agak rumit dan berisiko dengan peralatan apa adanya," tandas dia.