Pemetaan dominansi tersebut tetap perlu dilengkapi penilaian ketajaman melihat objek diam atau static visual acuity, kemampuan mengenali detail objek bergerak atau dynamic visual acuity, serta kestabilan pandangan ketika kepala dan tubuh bergerak. Fungsi-fungsi ini mendukung pemain memanfaatkan informasi visual selama pertandingan.

Kemampuan tersebut digunakan saat pemain mengikuti gerak bola atau tracking, serta menoleh untuk mengamati situasi sekitar atau scanning. Hal ini penting diterapkan kepada para pemain sedari dini alias saat masih di Sekolah Sepakbola (SSB).

"Pemain perlu mengumpulkan informasi sebelum bola datang: posisi rekan, pergerakan lawan, dan ruang yang dapat dimanfaatkan. Penglihatan yang baik membantu pemain menangkap informasi tersebut dengan jelas untuk kemudian diolah menjadi keputusan. Dalam tekanan tinggi, waktu untuk memutuskan sangat singkat. Karena itu, scanning perlu dilakukan pada saat yang tepat dan disertai pemahaman terhadap apa yang dilihat, sehingga pemain dapat menentukan pilihan untuk mengoper, menggiring, atau bergerak. Kebiasaan ini dapat dibangun melalui latihan sederhana di SSB menggunakan cone, angka, atau penanda, dengan tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan pemain. Pengamatan langsung, rekaman, atau data dapat membantu mengenali keputusan yang sudah tepat dan aspek yang masih perlu dilatih," papar Tommy.

Hal ini juga diamini oleh Indra Sjafri terkait pentingnya visual dalam permainan di lapangan. "Kemampuan merespons dengan tepat berawal dari penglihatan yang baik. Dengan scanning, pemain lebih mudah membaca permainan dan menerapkan taktik yang diberikan pelatih. Karena itu, pembinaan di SSB dan klub perlu membangun kebiasaan membaca permainan sejak dini. Perhatian ini perlu berjalan bersama pengembangan kemampuan teknik, fisik, dan mental pemain," timpal Indra.

"Saya berterima kasih kepada JEC Eye Hospitals and Clinics dan Prof. Tjahjono yang membuka ruang diskusi tentang kontribusi penglihatan bagi pengembangan pemain. Sepa bola membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu, dan pelatih perlu terbuka untuk belajar dari tenaga medis. Harapannya, pemeriksaan dan informasi kesehatan pemain semakin diperhatikan sejak di klub atau akademi, sehingga pembinaan memiliki dasar yang lebih lengkap. Pertemuan seperti ini membantu kami melihat bagaimana pengetahuan medis dapat diterjemahkan menjadi perhatian dan dukungan yang relevan di lapangan," lanjut Indra.