NADIKABAR.COM — Kesehatan mata penting bagi manusia, tidak terkecuali pesepakbola. Hal tersebut perlu diperhatikan sejak masa pembinaan hingga jenjang profesional.

Di balik sengitnya pertandingan sepakbola, mata berperan penting dalam membaca pergerakan lawan, mencari ruang, hingga menentukan peluang. Informasi visual diolah otak menjadi keputusan yang diterjemahkan melalui gerakan tubuh, membantu pemain merespons situasi dan menjalankan taktik tim.

Karena itu, kesehatan mata perlu diperhatikan sejak masa pembinaan hingga jenjang profesional. Deteksi dini dan pemeriksaan mata membantu mengenali gangguan penglihatan agar pemain memperoleh penanganan yang sesuai untuk menunjang performanya di lapangan.

Peran tersebut menjadi perhatian JEC Eye Hospitals and Clinics melalui seminar "Vision of A Champion: Ketajaman Visual sebagai Kunci Performa sang Garuda" yang diselenggarakan 28 Oktober di Auditorium Istiantoro, RS Mata JEC Kedoya, Jakarta.

Kegiatan ini mempertemukan pelatih, pesepakbola, pengurus sekolah sepak bola (SSB), dan pegiat sepakbola dengan praktisi kesehatan, serta turut disiarkan secara daring.

Diskusi menghadirkan Tjahjono D. Gondhowiarjo selaku dokter spesialis mata dan juga Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics; Indra Sjafri selaku eks pelatih timnas usia muda; serta Tommy Desky, dokter sekaligus analis sepak bola.

Para pembicara memadukan perspektif medis dan pengalaman kepelatihan untuk membahas bagaimana fungsi penglihatan mendukung kemampuan individu dan penerapan taktik tim.

"Dua mata pemain itu harus berfungsi optimal dan sangat jelas, untuk bisa dengan maksimal mengamati, lalu memperhitungkan ketepatan respons kepada bola yang hendak ia eksekusi selanjutnya. Fakta menunjukkan bahwa kalau kondisi mata pemain ada kelainan, maka kemampuan menangkap kejernihan fokus dan kejelasan dari bola yang bergerak atau kondisi lapangan serta perubahan cuaca juga akan mudah menurun. Sebagai trusted eye care leader, JEC Eye Hospitals and Clinics ingin mendorong perhatian yang lebih menyeluruh terhadap fungsi penglihatan, sehingga gangguan penglihatan dapat dikenali sejak dini dan setiap pemain memperoleh pemeriksaan serta penanganan yang sesuai, mulai dari masa pembinaan hingga jenjang profesional," ujar Tjahjono dalam keterangan kepada media.

Memahami Crossed Laterality untuk Mendukung Pembinaan Pemain

Salah satu pembahasan utama dalam seminar ini adalah crossed laterality atau dominansi silang, yaitu ketika mata dominan berada pada sisi yang berlawanan dengan tangan dan/atau kaki dominan. Contohnya, seorang pemain memiliki mata kiri dominan dengan kaki kanan dominan. Karena itu, pemetaan profil pemain mencakup keterkaitan dominansi mata, tangan, dan kaki untuk memahami koordinasi penglihatan dan geraknya.

Penelitian dalam jurnal Frontiers in Physiology (2018) terhadap 72 pemain elite dari Stade Rennais di Prancis dan sembilan pemain amatir menemukan crossed laterality pada 53 persen kelompok elite, dibandingkan 33 persen kelompok amatir. Temuan pada kelompok yang diteliti tersebut menjadi salah satu dasar pembahasan mengenai pentingnya mengenali profil dominansi setiap pemain.

Dalam penelitian tersebut, respons pemain dipengaruhi arah datangnya rangsangan visual, sedangkan gerakan berputar berkaitan dengan dominansi kaki. Temuan ini memberi konteks mengenai pentingnya mengenali sisi yang lebih kuat dan sisi yang masih perlu dilatih pada setiap pemain.

Pemetaan dominansi tersebut tetap perlu dilengkapi penilaian ketajaman melihat objek diam atau static visual acuity, kemampuan mengenali detail objek bergerak atau dynamic visual acuity, serta kestabilan pandangan ketika kepala dan tubuh bergerak. Fungsi-fungsi ini mendukung pemain memanfaatkan informasi visual selama pertandingan.

Kemampuan tersebut digunakan saat pemain mengikuti gerak bola atau tracking, serta menoleh untuk mengamati situasi sekitar atau scanning. Hal ini penting diterapkan kepada para pemain sedari dini alias saat masih di Sekolah Sepakbola (SSB).

"Pemain perlu mengumpulkan informasi sebelum bola datang: posisi rekan, pergerakan lawan, dan ruang yang dapat dimanfaatkan. Penglihatan yang baik membantu pemain menangkap informasi tersebut dengan jelas untuk kemudian diolah menjadi keputusan. Dalam tekanan tinggi, waktu untuk memutuskan sangat singkat. Karena itu, scanning perlu dilakukan pada saat yang tepat dan disertai pemahaman terhadap apa yang dilihat, sehingga pemain dapat menentukan pilihan untuk mengoper, menggiring, atau bergerak. Kebiasaan ini dapat dibangun melalui latihan sederhana di SSB menggunakan cone, angka, atau penanda, dengan tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan pemain. Pengamatan langsung, rekaman, atau data dapat membantu mengenali keputusan yang sudah tepat dan aspek yang masih perlu dilatih," papar Tommy.

Hal ini juga diamini oleh Indra Sjafri terkait pentingnya visual dalam permainan di lapangan. "Kemampuan merespons dengan tepat berawal dari penglihatan yang baik. Dengan scanning, pemain lebih mudah membaca permainan dan menerapkan taktik yang diberikan pelatih. Karena itu, pembinaan di SSB dan klub perlu membangun kebiasaan membaca permainan sejak dini. Perhatian ini perlu berjalan bersama pengembangan kemampuan teknik, fisik, dan mental pemain," timpal Indra.

"Saya berterima kasih kepada JEC Eye Hospitals and Clinics dan Prof. Tjahjono yang membuka ruang diskusi tentang kontribusi penglihatan bagi pengembangan pemain. Sepa bola membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu, dan pelatih perlu terbuka untuk belajar dari tenaga medis. Harapannya, pemeriksaan dan informasi kesehatan pemain semakin diperhatikan sejak di klub atau akademi, sehingga pembinaan memiliki dasar yang lebih lengkap. Pertemuan seperti ini membantu kami melihat bagaimana pengetahuan medis dapat diterjemahkan menjadi perhatian dan dukungan yang relevan di lapangan," lanjut Indra.