Robinson menjelaskan bahwa investasi, tabungan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan kemajuan teknologi merupakan faktor pendorong pertumbuhan ekonomi. Terdapat peran penting institusi ekonomi yang menentukan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi.

"Hal yang sebenarnya mendasari pertumbuhan 8% atau pertumbuhan ekonomi yang pesat adalah institusi yang menciptakan insentif dan kesempatan bagi masyarakat, bagi kewirausahaan, serta menciptakan lingkungan untuk investasi dan transformasi yang cepat," jelasnya.

Robinson membedakan institusi ekonomi menjadi dua kategori, yakni inklusif dan ekstraktif. Institusi inklusif memberikan kesempatan ekonomi secara luas, sedangkan institusi ekstraktif justru menghambat insentif dan peluang bagi sebagian besar masyarakat.

Ia kemudian mencontohkan perbedaan perkembangan ekonomi Korea Selatan dan Korea Utara. Meski memiliki latar belakang sejarah dan geografis yang sama, kedua negara mengalami perkembangan ekonomi yang sangat berbeda akibat pilihan kebijakan dan institusi yang dibangun.