Robinson menjelaskan Korea Selatan juga pernah menghadapi persoalan kartel, monopoli, dan praktik mencari keuntungan melalui kedekatan politik pada 1950-an. Namun, Korea Selatan melakukan transformasi ekonomi dengan mendorong kewirausahaan, membuka kesempatan berusaha, dan memperkuat sektor ekspor.
"Korea Selatan tidak dilahirkan untuk sukses. Negara itu menciptakan kesuksesannya sendiri. Mereka bertransformasi dari negara yang dipenuhi kapitalis politik dan praktik mencari rente menjadi negara dengan pengusaha yang dinamis dan terbuka," ujarnya.
Robinson lalu mengingatkan pentingnya evaluasi, keterbukaan terhadap kritik, dan keberanian belajar dari kegagalan. Menurutnya, negara yang ingin mencapai pertumbuhan tinggi harus mampu mengukur hasil kebijakannya dan melakukan perbaikan ketika target tidak tercapai.
"Ada hal menarik lainnya, yaitu pentingnya menerima kritik. Ketika pemerintah mengevaluasi hasil kebijakannya, pemerintah juga harus mengetahui apa yang salah dan bersedia menerima kritik," tutup Robinson.