Sinyo tidak menampik bahwa karya di ruang publik memang tidak bersifat abadi. Meski demikian, status fasilitas umum bukan alasan bagi pihak mana pun untuk menghapus karya seni bernilai tinggi secara sepihak tanpa mempertimbangkan respons warga lokal.
"Dalam dunia mural, sekalipun itu public space, ada etikanya. Etika menimpa mural itu ada. Kalau sudah ada karya yang lebih dulu dan sudah baik, walaupun itu public space, ya nggak bisa tiba-tiba ditimpa," tegasnya.
Pria yang aktif mengamati perkembangan subkultur Malang ini juga menyayangkan hasil karya baru yang menggantikan posisi mural bersejarah tersebut.
Sinyo menambahkan, ada ironi besar mengingat tindakan tersebut dilakukan dalam momentum festival kreatif daerah. "Festival Mbois, tapi nimpai gak mbois. Hasil timpanya yo gak luwih mbois," sindirnya.