Para pelaku industri juga tak ragu menunjuk platform streaming bermodal raksasa macam Netflix dan Disney+ sebagai dalang rusaknya standar ongkos produksi.
Sebagai contoh, seperti diberitakan Reuters pada Kamis (5/11), Netflix meluncurkan layanannya di Korea Selatan pada 2016, dan pada 2023 berkomitmen menginvestasikan US$2,5 miliar di pasar tersebut selama empat tahun.Monopoli platform asing tersebut dinilai merampas kemampuan perusahaan lokal untuk mempertahankan dan mengelola hak kekayaan intelektual (IP) mereka sendiri.
Penderitaan sineas juga disebut makin paripurna dengan gempuran tren tayangan format pendek dan otomatisasi AI. Dampak instannya langsung menyapu ketersediaan lapangan kerja.
Presiden Asosiasi Produser Drama Korea Kim Jong-chang menyoroti hilangnya ruang bagi talenta muda untuk memupuk portofolio.
"Tidak ada lapangan pekerjaan. Maraknya konten format pendek dan AI semakin memperburuk masalah ini. Kami sadar harus beradaptasi dengan perubahan tren, tapi kenyataan yang kami hadapi saat ini benar-benar sangat sulit," paparnya.
Jeritan senada datang dari Park Hae-young, penulis naskah serial hit My Mister yang juga mengetuai komite hak cipta Asosiasi Penulis TV & Radio Korea. Ia mencontohkan matinya jenjang karier para kru di level bawah.
"Biasanya, ketika saya merampungkan satu proyek, akan ada peluang baru yang bisa saya teruskan kepada para asisten penulis yang bekerja di bawah saya," tutur Park.
"Tapi sekarang para asisten penulis itu tidak punya pekerjaan. Kita tidak boleh membiarkan industri ini menjadi terus bergantung dan dikendalikan oleh modal asing raksasa," desaknya.