Ilustrasi anggaran dipotong pemerintah. (iStockphoto/NicoElNino)
Ironisnya, teriakan minta tolong pekerja kreatif ini ditanggapi dingin oleh pemerintah. Kementerian Kebudayaan justru berencana menyunat rancangan anggaran sektor ini dari 91,8 miliar won menjadi 87,3 miliar won pada 2027.
Padahal pada 2025, ekspor Korean Wave sukses meraup US$18,98 miliar, yang mana US$1,25 miliar di antaranya merupakan kucuran keringat murni dari industri penyiaran dan video.
Manuver tersebut jadi amat jomplang jika disandingkan dengan Jepang yang justru agresif menyuntik dana lima kali lipat demi mengejar target ekspor konten US$1,6 miliar pada 2033.
Menghadapi jalan buntu ini, para sineas mendesak pemerintah Korea Selatan segera merumuskan strategi taktis guna memulihkan ritme produksi ke era sebelum invasi streaming asing.
Mereka menuntut pembentukan dana investasi jangka menengah dan panjang senilai 1 triliun won yang dialokasikan khusus untuk produksi lokal.
"Dari kacamata ekosistem industri, jika ada 100 drama yang diproduksi, 99 drama lainnya jauh lebih penting daripada satu drama yang meledak di pasaran," pungkas Song sambil menyoroti betapa mendesaknya pemulihan volume produksi.
"Sebab dari 99 produksi itulah para kreator bisa tumbuh dan berkembang."