NADIKABAR.COM — Kesuksesan drama Korea secara internasional ternyata tak berbanding lurus dengan kondisi di Korea Selatan. Belasan asosiasi pelaku industri pertelevisian membongkar kenyataan bahwa drakor malah berdarah-darah di negara sendiri.

Dalam konferensi pers di Korea Press Center, Seoul, pada Rabu (4/11), asosiasi itu membeberkan sederet penyebab hancurnya ekosistem tayangan domestik.

Salah satu yang disoroti adalah bengkaknya ongkos produksi hingga struktur finansial. Presiden Asosiasi Produksi Drama Korea Song Byeong-joon menyoroti ironi pahit di lapangan.

Seperti diberitakan Korea JoongAng Daily pada Kamis (5/11), ia membongkar jebakan struktur finansial yang kini mencekik para sineas, di mana suntikan modal raksasa tak lagi menjamin keuntungan.

"Kenaikan biaya produksi dan menyusutnya kapasitas investasi telah menciptakan struktur di mana semakin banyak perusahaan berinvestasi pada tayangan, semakin banyak pula uang yang mereka hilangkan," ungkap Song Byeong-joon.

"Hal itu yang kemudian berujung pada menurunnya jumlah produksi," keluhnya.

Berdasarkan data asosiasi, volume produksi drama terjun bebas sekitar 30 persen hanya dalam dua tahun, merosot dari 141 judul pada 2022.

Stasiun televisi siaran bebas raksasa, seperti KBS, MBC, dan SBS ikut babak belur. Jatah tayang mereka jeblok dari 91 judul pada 2012 menjadi sisa 32 judul pada 2025, kondisi yang makin dipersulit oleh perolehan iklan yang terus lesu.