Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, yang secara alami dapat ditemukan pada mamalia kecil dan kutu yang menginfeksinya. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada tiga bentuk utama pes, yakni pes bubonik, pes septikemia, dan pes paru.

Pes bubonik merupakan bentuk yang paling umum. Bakteri biasanya masuk melalui gigitan kutu yang terinfeksi dan menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening. Sementara itu, pes paru menyerang paru-paru dan merupakan bentuk yang sangat serius.

WHO menyebut pes paru sebagai bentuk pes yang paling ganas. Masa inkubasinya bahkan dapat berlangsung sangat singkat, terkadang kurang dari 24 jam. Perbedaan penting pes paru dengan pes bubonik terletak pada cara penularannya.

Pes bubonik umumnya berkaitan dengan gigitan kutu yang membawa Y. pestis. Sebaliknya, pes paru dapat menyebar melalui partikel pernapasan dari orang yang terinfeksi. Artinya, penderita pes paru dapat menularkan bakteri kepada orang lain melalui droplet atau partikel pernapasan, terutama ketika terjadi kontak dekat.

WHO menyebut pes paru sangat menular dan dapat memicu wabah melalui penularan antarmanusia. Inilah alasan mengapa dugaan kasus di Siberia mendapat perhatian besar. Jika seseorang benar-benar terinfeksi pes paru, tindakan cepat diperlukan untuk menemukan dan memantau orang-orang yang melakukan kontak dekat dengannya.

Sejauh ini, tidak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan gejala penyakit, sementara Rusia masih menyelidiki apakah pes paru merupakan penyebab kematian korban. WHO juga menilai risiko kesehatan masyarakat bagi populasi umum saat ini masih rendah berdasarkan informasi yang tersedia. Penilaian tersebut dapat berubah jika informasi baru ditemukan.