Pakar mikrobiologi Dr Simon Clarke dari University of Reading juga mengingatkan agar kasus ini tidak langsung disamakan dengan pandemi COVID-19.
"Laporan dari Rusia mau tidak mau memunculkan perbandingan dengan COVID-19, tetapi penting diingat bahwa pes paru adalah penyakit yang sangat berbeda. Penyakit ini disebabkan bakteri Yersinia pestis, yang terkenal sebagai penyebab Black Death dan hingga kini masih ditemukan terutama pada hewan di sejumlah wilayah Asia, Afrika, dan Amerika," ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pes paru memang sangat serius karena infeksinya telah mencapai paru-paru dan dapat menular melalui partikel pernapasan. Namun, berbeda dari banyak penyakit virus pernapasan, pes disebabkan bakteri sehingga dapat diobati dengan antibiotik jika diketahui dengan cepat.
Clarke turut mengingatkan bahwa laporan tentang tabung reaksi yang pecah belum cukup untuk menyimpulkan telah terjadi infeksi akibat kecelakaan laboratorium. Menurutnya, laboratorium dengan tingkat keamanan tinggi memiliki berbagai lapisan perlindungan, prosedur ketat, kabinet keselamatan, sistem aliran udara dan pekerja yang terlatih.
"Sebuah tabung yang pecah tidak secara otomatis menyebabkan paparan atau infeksi," sebutnya.
Ia menambahkan, hingga informasi lebih lengkap tersedia, masih sulit menentukan apakah kasus tersebut merupakan infeksi yang terjadi saat bekerja, paparan di luar laboratorium, atau tanda adanya penularan yang lebih luas.