Kebuntuan ini mirip dengan Blok Barat pada Perang Dunia Pertama, di mana Blok Sekutu dan Blok Sentral menggali parit dan saling menghancurkan satu sama lain, dengan garis depan yang nyaris tak bergeser selama bertahun-tahun.
Namun, tidak seperti para prajurit Perang Dunia Pertama, kebuntuan superkoloni ini mungkin takkan pernah berakhir.
Menulis untuk Scientific American tahun 2011, ahli biologi Mark W. Moffett menjelaskan semut Argentina tergolong tidak biasa karena tidak memiliki dear enemy effect, yakni fenomena di mana hewan teritorial menunjukkan lebih sedikit agresi terhadap musuh tetangga yang sudah dikenal dibanding pihak asing tidak dikenal, setelah terjadinya pertarungan panjang.
Melalui efek ini, semacam zona demiliterisasi akhirnya dapat muncul di sepanjang perbatasan tempat di mana kekerasan tidak lagi terjadi. Di bawah kondisi yang tepat, kedua kubu wilayah dapat memisahkan diri satu sama lain. Pertumpahan darah pun berhenti.
Namun dikutip NadiKabar dari IFL Science, Moffett berargumen semut Argentina tak punya keistimewaan ini. Di habitat aslinya di Amerika Selatan, mereka sering bertarung memperebutkan dataran banjir. Koloni yang bersaing akan saling menyerang, tapi berhenti tiap air pasang. Konflik tak pernah terselesaikan tuntas, mereka terprogram untuk terus bertarung.