AI juga menjadi agenda utama pada hari kedua. Kehadiran para pemimpin perusahaan teknologi di Dewan Keamanan PBB berlangsung ketika kekhawatiran mengenai perkembangan AI semakin mendapat perhatian, termasuk dari dalam industri teknologi sendiri.

Perdana Menteri Kerajaan Serikat Britania Raya dan Irlandia Utara atau Inggris, Andy Burnham, dalam debutnya di debat Sidang Umum PBB menyerukan kerja sama internasional untuk menghadapi tantangan AI dan disinformasi. Ia mengatakan Inggris sedang memulihkan stabilitas dan membangun ekonomi yang lebih dinamis setelah periode turbulensi akibat Brexit.

Burnham juga menyoroti aktivitas disinformasi yang menurutnya dilakukan aktor-aktor yang berafiliasi dengan Rusia. Ia mengatakan aktor tersebut menggunakan bot, situs palsu dan artikel surat kabar yang dipalsukan, termasuk dengan memalsukan identitas 28 organisasi Inggris seperti universitas dan BBC.

"Agensi-agensi Rusia telah menggunakan segala cara yang mereka miliki untuk menyebarkan kebohongan dan disinformasi serta memanfaatkan ketakutan masyarakat," kata Burnham.

Ia juga mengatakan terdapat bukti bahwa Rusia berupaya mencampuri pemilihan umum Inggris pada 2019. Menurut Burnham, Kremlin menghabiskan sekitar 1,3 miliar poundsterling (sekitar Rp30,3 triliun) per tahun untuk menyebarkan disinformasi.

Sebagai respons, Burnham mengumumkan pembentukan National Centre for Information Defence untuk menghadapi disinformasi yang dinilai merugikan kepentingan Inggris.

Dalam isu AI, Burnham mengatakan standar global diperlukan karena keputusan terkait teknologi tersebut terlalu penting untuk diserahkan begitu saja. "Keputusan-keputusan mendasar mengenai teknologi ini terlalu penting untuk dibiarkan terjadi secara kebetulan," katanya.

Inggris, kata Burnham, akan berupaya meyakinkan negara-negara lain mengenai aturan transparansi dan akses terhadap model AI.

Trump sebelumnya menolak seruan untuk memperlambat pengembangan AI dan menyebutnya sebagai bagian dari "skema globalis". Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyerukan pengembangan AI yang tidak bergantung pada Amerika Serikat maupun China.

"Saya tidak ingin siapa pun menjadi pengikut salah satu kekuatan besar. Sebaliknya, kita harus bersatu untuk membangun model AI terdepan yang bersifat open source," kata Macron.