Ukraina kembali menjadi agenda diplomatik. Zelenskyy mengatakan setelah bertemu Trump bahwa kedua negara ingin perang berakhir sebelum musim dingin.

"Kami membahas langkah-langkah deeskalasi potensial yang dapat membuka jalan menuju diplomasi," kata Zelenskyy melalui X.

Ia juga mengatakan Ukraina siap menyepakati gencatan senjata terkait infrastruktur energi jika Rusia setuju menghentikan serangan terhadap sistem energi Ukraina.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di New York pada Rabu (23/9). Proses negosiasi Rusia-Ukraina sendiri masih mengalami kebuntuan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron sebelumnya mengusulkan "moratorium ganda" antara Rusia dan Ukraina, yang mencakup penghentian serangan terhadap infrastruktur energi dan sipil serta penghentian serangan terhadap pengiriman gandum di Laut Hitam.

"Musim dingin akan datang," kata Macron. Ia menyerukan moratorium terhadap serangan energi dan infrastruktur sipil, serta moratorium di Laut Hitam untuk memungkinkan pengiriman gandum kembali berlangsung.

Isu Gaza juga menjadi bagian penting dari rangkaian pidato para pemimpin dunia. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan pengakuan terhadap negara Palestina berdasarkan perbatasan 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

Sementara itu, krisis iklim tetap menjadi agenda PBB. Antonio Guterres mengecam perusahaan bahan bakar fosil dan mengatakan lima perusahaan minyak besar Barat telah mengantongi hampir US$500 miliar (sekitar Rp8.912 triliun) keuntungan sejak invasi Rusia ke Ukraina, sementara hanya US$34 miliar (sekitar Rp606 triliun) telah diinvestasikan untuk membantu negara berkembang beradaptasi dengan pemanasan global.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris