Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Cina Xi Jinping di Washington pekan ini. Cina adalah pembeli minyak Iran terbesar dan mitra politik penting bagi Teheran. Presiden AS kemungkinan akan mengangkat soal hubungan ekonomi dan keuangan Cina dengan Iran, serta berharap Beijing akan menggunakan pengaruhnya atas Teheran, terutama menyangkut keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Pada saat yang sama, Trump memberi sinyal bahwa ia terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang dijadwalkan datang ke New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB. Perwakilan senior dari negara-negara Teluk juga diperkirakan akan tiba di AS dalam beberapa hari ke depan.
Menurut Axios, Trump berencana membahas perang Iran dengan perwakilan sejumlah negara Teluk di sela-sela Sidang Umum PBB.
Hingga kini belum muncul posisi bersama antara Iran dan negara-negara Arab di Teluk. Sebuah pertemuan yang direncanakan melibatkan Iran, negara-negara Teluk, dan Irak dibatalkan pekan lalu. Pembatalan tersebut diduga terkait dengan serangan Houthi terhadap Arab Saudi.
"Pada pandangan pertama, tampak sedikit sekali kesamaan antara Iran dan negara-negara Teluk," kata Farzan Sabet, pakar Timur Tengah dari Geneva Graduate Institute, kepada DW. "Namun di balik layar, setidaknya ada kepentingan bersama untuk mencegah eskalasi militer lebih lanjut."
Negara-negara Teluk menyadari bahwa mereka kecil kemungkinannya untuk menang dalam konfrontasi militer langsung dengan Iran dan pada umumnya lebih memilih de-eskalasi serta pelonggaran ketegangan secara pragmatis dengan Teheran.
Namun, kesepakatan saat ini belum terlihat. Tuntutan Iran untuk kontrol lebih besar atas Selat Hormuz, khususnya, dinilai terlalu jauh dari sudut pandang negara-negara Teluk.
Perang di Yaman semakin mempersempit ruang untuk menormalisasi hubungan. Arab Saudi, misalnya, kecil kemungkinannya akan membuat konsesi selama masih berada di bawah tekanan dari Houthi yang berafiliasi dengan Iran.