Menurut Fatemah Aman, koalisi negara-negara Teluk yang didukung AS dan bersikap permanen bermusuhan akan menjadi beban strategis yang besar bagi Teheran.
Ia menambahkan bahwa Iran dapat menempuh strategi dua jalur, yakni melawan upaya AS membangun sistem pengepungan regional, sekaligus menawarkan negara-negara Teluk model keamanan kawasan alternatif yang berbasis akomodasi dan dialog.
"Bagaimanapun, negara-negara Teluk bukan hanya rival Iran, tetapi juga tetangganya dan tidak ada pihak yang bisa mengubah kenyataan geografis itu," kata Aman.
Menurut pejabat keamanan Iran Mohsen Rezaei, Teheran menuntut AS mengakhiri pertempuran di semua lini.
Teheran juga menuntut pembebasan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan serta pencabutan blokade angkatan laut di selat tersebut. Pembicaraan dengan Qatar dan Oman dilaporkan masih terus berlangsung. Rezim Iran kini menunggu respons dari Trump. Belum ada kejelasan terkait sinyal-sinyal diplomatik ini dapat berkembang menjadi proses politik yang lebih luas.
Untuk saat ini, hambatan utama adalah Washington, Teheran, dan negara-negara Teluk yang terus mengejar agenda yang sangat berbeda untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan ini.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman
Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Muhammad Hanafi