Secara teknis, energi vulkanik yang dipantau melalui Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) sempat melonjak pada 5 September 2026 sebelum akhirnya melandai keesokan harinya. Sementara itu, data deformasi dari tiltmeter Stasiun Tanjung sempat merekam tren peningkatan pada awal Agustus 2026, namun data dari Stasiun Lava93 kini menunjukkan pola mendatar yang mengindikasikan kondisi tekanan yang cenderung konstan.

Lana menegaskan bahwa berakhirnya fase erupsi menerus bukan berarti ancaman telah hilang sepenuhnya.

"Satu episode erupsi menerus yang terjadi sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB telah berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB setelah berlangsung selama 25 jam. Sebanyak 3 kali erupsi Strombolian terjadi setelah episode erupsi menerus tersebut berakhir," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kemunculan kembali erupsi strombolian merupakan ciri khas Anak Krakatau yang menandai transisi aktivitas.

"Kembalinya erupsi strombolian sebagai karakteristik erupsi Gunungapi Anak Krakatau saat ini untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang. Meskipun demikian, perkembangan dinamika vulkanismenya masih terus dipantau dan dengan dievaluasi," tambahnya.

PVMBG memperingatkan bahwa potensi letusan dalam waktu dekat masih tergolong tinggi. Ancaman utama berupa lontaran material pijar, hujan abu lebat, hingga potensi aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.