NADIKABAR.COM — Bahlil Lahadalia resmi dilantik menjadi Menteri Koordinator BIdang Hilirisasi dan Transisi Energi oleh Presiden Prabowo Subianto, dia juga dipercaya merangkap jabatan sebagai Menteri ESDM. Bahlil dilantik secara langsung oleh Prabowo, siang ini di Istana Negara, Jakarta Pusat.
Sosok Bahlil sendiri bukan orang baru di pemerintahan, diriinya pernah menduduki beberapa posisi strategis, baik di Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto maupun Presiden ke-7 Joko Widodo. Selain menjabat sebagai Menteri ESDM, saat ini Bahlil merupakan Ketua Umum Partai Golkar. Dua jabatan tersebut didapat Bahlil dalam rentang waktu hanya beberapa hari pada Agustus 2024.
Sebelumnya, Bahlil pertama kali masuk pemerintah usai dilantik Presiden ke-7 Joko Widodo menjadi Menteri ESDM pada 23 Oktober 2019. Setelah itu, pada 19 Agustus 2024, menggantikan Arifin Tasrif untuk menjalankan sisa masa jabatan Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024.
Hanya dua hari setelah dilantik menjadi Menteri ESDM, Bahlil terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar periode 2024-2029 pada 21 Agustus 2024. Ia ditetapkan secara aklamasi dalam Musyawarah Nasional (Munas) XI Partai Golkar di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.
Selama menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil berhasil membantu negara mengerek investasi serta menyelesaikan target-target dari Jokowi. Tahun pertama Bahlil menjabat, angka realisasi investasi tembus Rp 809 triliun arau 102% dari target investasi di tahun 2019 yang Rp 792 triliun. Pada 2020, realisasi investasi adalah Rp 826,3 triliun atau 101,1% dari target sebesar Rp 817 triliun.
Lalu pada 2021 Indonesia berhasil mendapat investasi Rp 901,02 triliun atau 104,95% dari target sebesar Rp 858,5 triliun. Kemudian realisasi investasi di 2022 mencapai Rp 1.207,2 triliun, sementara realisasi investasi 2023 tembus Rp 1.418 triliun dari target Rp 1.400 triliun.
Sebelum menjadi birokrat di pemerintah Presiden Jokowi maupun Prabowo, Bahlil lama berkecimpung sebagai pengusaha. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) periode 2015-2019.
Pria kelahiran Banda, Maluku, 7 Agustus 1976 itu merintis karir dan bisnis dari nol. Dia terlahir dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Ayahnya seorang kuli bangunan dan sang ibu bekerja sebagai tukang cuci. Namun hal tersebut tak membuatnya menyerah.
Sejumlah profesi pernah dilakoni pria asal Fakfak, Papua ini. Mulai dari tukang kue semasa kecil, seorang kondektur, hingga menjadi sopir angkot pun dia jalani. Dengan kerja keras itulah dia menjadi orang besar yang tadinya bukan siapa-siapa.
Bahkan, sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), Bahlil sudah berjuang. Dia berjualan kue untuk memenuhi kebutuhannya, mulai dari membeli buku, sepatu, hingga kelereng untuk bermain dengan kawannya.
Bukan cuma jualan kue, ketika beranjak remaja segala macam pekerjaan kasar dilakukan Bahlil. Mulai dari kondektur angkot, jualan ikan, jadi kuli bangunan, sampai akhirnya jadi sopir angkot. Bahkan dia mengaku sering menghabiskan masa remajanya hidup di terminal.
Dengan segala kekurangannya, justru Bahlil nekat mau mengubah nasib. Dengan modal pas-pasan dirinya terbang ke Jayapura, niatnya untuk kuliah. Cabut ke Jayapura, dia cuma membawa ijazah SMA, tiga setel baju, SIM dan kantong kresek. Bahkan, orang tuanya pun tidak tahu kalau dia ke Jayapura hanya untuk kuliah.
Sampai di Jayapura Bahlil sempat luntang-lantung karena tidak ada kampus yang mau menerimanya, namun suatu hari dia dikuatkan oleh ketua asrama yang ditinggalinya. Bahlil bercerita dia dimotivasi untuk tetap kuliah, hingga akhirnya dia mendaftarkan diri ke kampus swasta.
Saat menjadi mahasiswa, Bahlil juga aktif sebagai aktivis, bahkan sempat keluar masuk bui karena pergerakannya. Bolak-balik bui, Bahlil merasa menderita. Dari situ lah dia mengaku sadar harus mengubah nasibnya dari orang yang miskin. Terlebih dia mengaku pernah sampai mengalami busung karena tidak bisa membeli makanan yang layak.
Kemudian dia mengawali karir di dunia keuangan. Bahlil bercerita pernah menjadi pegawai kontrak asuransi. Hingga akhirnya, dia ditawari temannya membangun perusahaan konsultan keuangan. Dari situ dia menjalani karir mulai dari karyawan biasa.
Sejak saat itulah Bahlil meneruskan karir cemerlangnya. Hingga akhirnya dia bisa menjadi CEO PT Rifa Capital dengan gaji Rp 35 juta di usia yang masih 25 tahun. PT Rifa Capital tersebut memiliki cabang di berbagai pulau di Indonesia, seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Sepak terjangnya di dunia bisnis mengantarnya meraih posisi Ketua Umum HIPMI dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-15 Desember 2015. Selama periode kampanye pemilihan umum (pemilu) tahun 2019, Bahlil masuk daftar tim sukses (timses) Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin. Sampai akhirnya, Bahlil diajak masuk menjadi menteri oleh Jokowi.