Menurut Aminudin, alih wahana tidak mengurangi nilai dan keaslian naskah kuno, tetapi menjadi langkah lanjutan setelah identifikasi, pendaftaran, pelestarian, dan digitalisasi agar pengetahuan di dalam naskah dapat dibaca lebih banyak orang.
Dosen ITB sekaligus Ketua Tim Produksi Buku Bacaan Anak dan Komik Naskah IKON dan MoW Riama Maslan Sihombing mengatakan naskah kuno merekam kehidupan masyarakat masa lalu, termasuk kekuasaan, agama, keluarga, alam, pengetahuan, etika, dan kehidupan bersama.
Menurutnya, alih wahana diperlukan karena bahasa, aksara, serta konteks sosial, dalam naskah kuno tidak selalu mudah dipahami anak-anak masa kini.
Sedangkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Jasa Informasi dan Naskah Nusantara Perpusnas Yeri Nurita menambahkan pendekatan kreatif tersebut menjadi jembatan antargenerasi untuk memperkenalkan nilai naskah kuno, sekaligus menumbuhkan minat baca dan kesadaran terhadap sejarah serta budaya bangsa.