Pemilihan naskah mempertimbangkan bagaimana kisah dalam naskah kuno dapat dikemas agar lebih mudah dipahami anak-anak. Oleh karena itu isi naskah tidak disajikan secara berat, tetapi dikembangkan menjadi cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan penggambaran cerita yang memperlihatkan aktivitas sederhana, seperti anak bersama ibunya pergi ke pasar atau bersama neneknya mengambil buah, agar anak-anak dapat mengenal isi naskah tanpa harus berhadapan langsung dengan bentuk teks kuno yang sulit dipahami.
"Jadi, aspek-aspek yang ramah serta dekat dengan kehidupan sehari-hari yang kami perkenalkan. Kami ingin bahwa semua dunia bisa tahu kisah di Nusantara itu seperti apa, Syekh Yusuf seperti apa, dan lain sebagainya," ujar Aditia Gunawan.
Perpusnas juga tengah menjalin komunikasi dengan UNESCO agar komik dan buku anak berbasis naskah Nusantara tersebut dapat disebarluaskan melalui platform UNESCO.
Pengembangan komik juga dilakukan bersama mitra dari Institut Teknologi Bandung (ITB), khususnya bidang desain komunikasi visual dan seni rupa. Pustakawan Perpusnas turut berperan melakukan kurasi untuk memastikan isi dan ilustrasi tetap sesuai dengan sumber sejarah.