"Selama ini, penilaian kerusakan masih sangat manual, sehingga hasil penilaian dapat berbeda antara satu orang dan orang lainnya. AI diharapkan memberikan hasil yang lebih konsisten setelah melalui pengujian berulang," ucap Aminudin.

Namun demikian, Perpusnas mengakui pemanfaatan AI untuk membaca naskah kuno dan menerjemahkannya ke bahasa Indonesia belum berjalan secara optimal, mengingat saat ini, teknologi pembacaan teks relatif lebih mudah diterapkan pada tulisan dengan aksara yang sudah umum, seperti Latin, China, Arab, dan beberapa bahasa utama lainnya.

"Tantangannya adalah naskah Nusantara yang menggunakan aksara, seperti aksara Sunda, aksara Jawa, dan aksara lainnya yang belum dapat dibaca secara otomatis dengan tingkat kemampuan yang sama. Oleh karena itu, kita akan meningkatkan kolaborasi antara ahli naskah dan ahli AI untuk menghasilkan teknologi yang sangat bermanfaat, utamanya dalam pelestarian naskah kuno Nusantara," paparnya.