Namun semua warga negara, termasuk bagi imigran yang legal maupun undocument, yang telah berusia 18 tahun wajib mendaftar di Selective Service System (SSS). Bagi mereka yang lolos SSS berkewajiban mengikuti wajib militer.
Tetangga kita, Malaysia tampaknya menerapkan sistem yang hampir sama dengan Amerika Serikat. Terhadap warga negara Malaysia yang terpilih secara selektif oleh pemerintah, para pemuda usia 16 tahun keatas wajibkan ikut Program Latihan Khidmas Negara (PLKN) selama 45 hari.
Memikir Ulang Pelaksanaan Pertahanan Semesta
Konsep pertahanan semesta berporos dari doktrin yang dirumuskan oleh Jenderal AH Nasution tahun 1953. Doktrin ini hasil refleksi sang jenderal dalam pengalaman perang gerilya di awal kemerdekaan. Namun apakah doktrin ini masih relevan saat ini?
Tanpa ragu, saya menjawabnya doktrin ini masih relevan, yang berbeda terletak pada kompleksitas ancaman, karena berkembangnya perang asimetri (asymatric war) dan perang hibrid (hybrid warfare) yang makin meluas.
TNI sebagai kekuatan pokok memikul tanggungjawab yang tidak mudah, ditambah dengan kekuatan fiskal yang terbatas. Karena itu menghadapi ancaman pertahanan, TNI perlu dukungan sumber daya agar makin profesional, dan kesiapan eskalasi kekuatan rakyat terlatih.
Rakyat terlatih tidak berarti mengabaikan prioritas utama untuk membangun postur TNI yang mumpuni, yang memenuhi Minimum Essential Force (MEF), akan tetapi kita perlu merenungkan kembali konsep komponen cadangan (komcad) sebagai lapis pertahanan.
Definisi kita tentang pertahanan spektrumnya juga perlu diperluas. Konsep komcad lebih mirip 'wajib militer' ala Malaysia, yakni adanya kesukarelawanan warga negara menjadi kekuatan komcad.
Ancaman pertahanan terlalu fokus terhadap ancaman militer, padahal perang asimetri dan hibrid telah meluas, dan berlangsung dalam kerangka tertib sipil. Situasi ini dapat menimbulkan dilema buat TNI, sebab mobilisasi militer dalam rezim tertib sipil tidaklah mudah.
Karena itu, dengan perpaduan solid TNI dan rakyat, rakyat akan dapat diandalkan menghadapi perang non-konvensional.
Rakyat terlatih bukan hanya mereka yang terlibat di komcad, lebih dari itu adalah kesadaran inheren, yang melekat dari setiap warga negara, baik secara personal maupun kelembagaan dengan keahlian dan kapasitas masing-masing, merasa terpanggil membantu berbagai ancaman pertahanan nasional.