Sumber daya ini belum diorganisir dengan baik,dan nyaris tak pernah teruji pascaperang kemerdekaan.

Kedua, kita perlu memikirkan untuk perluasan komcad. Mungkin kita perlu wajib militer terbatas, yang ditujukan bukan hanya semata kebutuhan komcad pertahanan, tetapi untuk membangun kultur pendukung bagi pelaksanaan pembangunan semesta, terutama dari kalangan generasi muda.

Mungkin sudah waktunya memberlakukan anak usia 18 tahun untuk memperkenalkan pendidikan kedisiplinan, budi pekerti, dan pemahaman bela negara melalui pendidikan terpadu, antara sekolah, TNI, Kepolisian, dan praktisi untuk pelatihan dan pembinaan jangka panjang.

Tujuannya, membangun budaya baru yang lebih produktif, meningkatkan inovasi, dan budi pekerti luhur di kalangan anak anak muda.

Barangkali kita juga perlu memikirkan pelatihan rakyat terlatih di kalangan kaum profesional. Mendefinisikan rakyat terlatih dalam kerangka peer mentoring diantara rakyat di bawah pembinaan TNI, tujuannya untuk mengajarkan keahlian satu sama lain.

Dengan meningkatkan kapasitas rakyat, mendorong produktivitas dan inovasi, serta dalam kerangka memastikan kesiapan pendukung untuk pertahanan negara, khususnya dalam menghadapi perang asimetri dan hybrid.

Perpaduan antara TNI yang kuat dan profesional, dan dukungan rakyat terlatih, serta manajemen sumber daya yang memadai, saya yakin, kekuatan pertahanan, dengan TNI di lini utama akan memiliki efek penggentar yang diperhitungkan dunia.

Kita boleh kalah alutsista dengan negara maju, kita boleh kalah canggih dalam industri militer. Meskipun begitu, pemenuhan industri militer perlu terus kita tingkatkan, termasuk memperkuat industri militer dalam negeri. Namun, nyawa pertahanan sesungguhnya adalah menyatunya TNI dan rakyat.

Dirgahayu TNI ke-81 tahun, makin kokoh menjadi benteng republik, dan setia bersama rakyat, seperti tema HUT TNI tahun 2026, 'TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur'.

Said Abdullah, Anggota DPR RI, Ketua DPP PDI Perjuangan