"Ke depan, studi ini perlu dilaksanakan secara sistematis dengan koordinasi yang erat antarpihak, tujuan yang jelas, serta tahapan dan hasil yang terukur. Aspek keselamatan, kelayakan teknis dan keekonomian, kepatuhan terhadap regulasi, serta pengelolaan risiko harus menjadi pertimbangan utama agar hasil kajian dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang tepat dan memberikan nilai tambah bagi Pertamina maupun ketahanan energi nasional," katanya.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyampaikan sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina memiliki peran strategis dalam menghubungkan potensi sumber daya energi Indonesia dengan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah.

"Indonesia memiliki potensi sumber daya energi yang perlu didukung oleh solusi distribusi sesuai karakteristik negara kepulauan. Sebagai perusahaan energi nasional milik negara, Pertamina terus mengeksplorasi inovasi untuk memperkuat ketahanan energi dan memperluas akses masyarakat terhadap energi yang terjangkau," ujar Baron.

Melalui studi ini, Pertamina bersama kedua mitra mengevaluasi teknologi CubiTan yang dikembangkan Atomis. Teknologi ini memanfaatkan material berpori MOF untuk mengikat molekul gas pada permukaannya, sehingga berpotensi menyimpan gas metana pada tekanan lebih rendah dibandingkan dengan sistem gas alam terkompresi konvensional.

Potensi tersebut dikaji untuk memahami kesesuaiannya bagi penyimpanan dan pengangkutan gas, khususnya di wilayah dengan akses jaringan pipa yang masih terbatas. Studi ini juga mengevaluasi potensi pemanfaatan gas bumi sebagai alternatif untuk berbagai aplikasi yang saat ini menggunakan LPG.

Apabila memenuhi persyaratan teknis, keselamatan, regulasi, dan keekonomian, teknologi ini berpotensi mendukung diversifikasi pasokan energi serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya gas domestik, termasuk dalam upaya mengurangi ketergantungan pada LPG impor.